Tual, BM – Wali Kota Tual, Akhmad Yani Renuat menegaskan, sejarah perjuangan masyarakat Kei merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah nasional Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan keynote speech pada kegiatan Bedah Buku Bon Setitit: Dari Kei untuk Konferensi Meja Bundar yang mengusung tema “Menggali Akar, Merajut Sejarah: Benang Merah Nilai dan Perjuangan Kei untuk Indonesia”, yang berlangsung Sabtu (18/7/2026) di Aula Kantor Wali Kota Tual.
Pada kesempatan tersebut Wali Kota Tual menegaskan, kegiatan bedah buku bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang refleksi untuk membaca kembali perjalanan bangsa dari perspektif daerah, khususnya Kepulauan Kei yang memiliki kontribusi penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Selama ini narasi perjuangan bangsa lebih banyak berpusat di Pulau Jawa, padahal dari wilayah-wilayah terluar Nusantara, termasuk Kepulauan Kei, lahir tokoh, pemikiran, semangat, dan nilai-nilai yang ikut membangun fondasi Republik Indonesia,” ujar Renuat.
Menurutnya, buku Bon Setitit membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami bahwa masyarakat Kei bukan hanya menjadi penonton sejarah, tetapi juga pelaku penting dalam perjalanan bangsa, termasuk dalam momentum Konferensi Meja Bundar yang menjadi tonggak pengakuan kedaulatan Indonesia.
Ia menilai buku tersebut memiliki makna strategis karena memperkaya historiografi Indonesia melalui perspektif lokal yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat luas.
Dalam kesempatan itu, Renuat juga menyoroti nilai-nilai budaya Kei yang menjadi kontribusi nyata bagi kehidupan berbangsa. Nilai Larvul Ngabal, katanya, mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial.
Selain itu, semangat Ain Ni Ain yang berarti semua orang adalah saudara dinilai sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat persatuan bangsa.
“Di tengah berbagai tantangan kebangsaan saat ini, semangat Ain Ni Ain menjadi inspirasi bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling menguatkan,” katanya.
Ia juga menegaskan, budaya gotong royong dan solidaritas masyarakat Kei merupakan modal sosial yang sejak dahulu menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan bersama serta menjadi benang merah perjuangan masyarakat Kei dengan cita-cita Indonesia.
Lebih lanjut, Renuat mengajak masyarakat untuk terus menggali sejarah lokal sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa. Menurutnya, mengenali akar sejarah berarti memahami identitas, sedangkan merajut sejarah berarti menyusun kembali perjalanan bangsa agar dapat diwariskan kepada generasi muda.
“Kita tidak boleh membiarkan sejarah lokal hilang ditelan waktu. Semakin kuat masyarakat mengenal sejarahnya, semakin kuat pula rasa cinta tanah air yang dimilikinya,” tegasnya.
Wali Kota juga menekankan pentingnya literasi sejarah sebagai investasi peradaban. Menurutnya, literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami masa lalu, membaca realitas masa kini, serta merancang masa depan.
Karena itu, kegiatan bedah buku dinilai memiliki nilai strategis sebagai media pendidikan karakter bagi generasi muda agar memahami bahwa kemerdekaan Indonesia lahir melalui pengorbanan, persatuan, diplomasi, kecerdasan, dan keberanian.
Dalam pidatonya, Renuat turut mengaitkan pentingnya pelestarian sejarah dengan visi pembangunan Kota Tual, yakni mewujudkan Kota Tual MARYADAT sebagai kota maritim yang maju, aman, religius, berbudaya, berdaya saing, sejahtera, dan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus dibarengi dengan pelestarian sejarah, budaya, dan penguatan karakter masyarakat.
Renuat juga memaparkan, komitmen Pemerintah Kota Tual dalam meningkatkan literasi masyarakat. Selama dua tahun terakhir, Pemkot Tual bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI berhasil menghadirkan lebih dari 17.000 eksemplar bahan bacaan bermutu, rak buku, serta perangkat teknologi informasi yang disalurkan ke perpustakaan desa dan kelurahan, taman baca masyarakat, puskesmas, hingga komunitas literasi.
Selain itu, pada tahun 2025 Kota Tual juga memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik sebesar Rp10 miliar untuk pembangunan Gedung Layanan Perpustakaan dan penyediaan Titik Baca Digital yang berlokasi di Perpustakaan Kemilau Desa Taar.
Ke depan, lanjut Renuat, Pemerintah Kota Tual akan terus memperkuat budaya literasi, mengembangkan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan, mendokumentasikan sejarah dan budaya Kei, memperluas kolaborasi dengan akademisi, pegiat literasi, komunitas sejarah, serta lembaga adat, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak karya ilmiah yang mengangkat kontribusi masyarakat Kei bagi Indonesia.
“Kami percaya pembangunan daerah bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangun ingatan kolektif masyarakat,” ujar Renuat.
Untuk itu Wali Kota mengajak seluruh masyarakat menjadikan buku Bon Setitit sebagai sumber inspirasi untuk mencintai sejarah, menjaga identitas budaya, serta terus berkarya bagi bangsa.
“Semakin banyak generasi muda Kei terdorong untuk meneliti, menulis, dan mendokumentasikan sejarah daerah, maka kontribusi Kepulauan Kei terhadap Indonesia semakin dikenal, diapresiasi, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya. (BM01)







